Kuala Lumpur, Malaysia, 3 – 6 januari 2018bendera malaysia — Pada 2017, Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PP Muhammadiyah) memberikan amanat kepada Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah bersama Universitas Ahmad Dahlan untuk menyiapkan konsep pendirian Museum Muhammadiyah. Pembangunan museum tersebut direncanakan memperoleh dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Untuk melaksanakan amanat tersebut, PP Muhammadiyah membentuk Tim Persiapan Museum Muhammadiyah yang bertugas melakukan kajian serta menyiapkan berbagai kebutuhan pendirian museum. Selama hampir delapan bulan, tim bekerja secara intensif hingga pada penghujung 2017 berhasil menyusun draf proposal pendirian museum yang mencakup desain bangunan dan rancangan konten dalam bentuk storyline.

Museum Muhammadiyah direncanakan berdiri di atas lahan seluas sekitar 2.000 meter persegi, bersebelahan dengan Masjid Islamic Center UAD di Jalan Ring Road Selatan, Yogyakarta. Bangunan museum dirancang terdiri atas lima lantai, sebagaimana ditunjukkan pada gambar berikut.

Desain museum Muhammadiyah  tampak dari arah selatan

Studi Referensi Museum di Malaysia

Untuk memperoleh referensi dalam pengembangan konten dan tata kelola museum, pada 3–6 Januari 2018 kami melakukan kunjungan ke sejumlah museum di Malaysia. Rombongan dipimpin oleh Prof. Dr. Dadang Kahmad, M.Si., Ketua PP Muhammadiyah Bidang Pustaka dan Informasi.

Rombongan tersebut terdiri atas beberapa pengurus Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, yaitu saya sebagai ketua, Widiyastuti, M.Hum. sebagai Wakil Ketua Bidang Museum dan Kearsipan, Afan Kurniawan, M.T. sebagai Wakil Ketua Bidang Pendayagunaan Teknologi Informasi, Amir Nashirudin sebagai sekretaris, Iwan Setyawan sebagai wakil sekretaris, Purwono sebagai bendahara, serta Adim dan Dr. Rusydi Umar sebagai anggota. Turut serta pula perwakilan konsultan perencana, yaitu Yudhanto dan Hari, serta ahli permuseuman Riswinarno dan Sri Ediningsih.

Pada hari pertama, kami mengunjungi lima tempat, yaitu Muzium Diraja, KL Gallery, Islamic Arts Museum Malaysia, Muzium Negara Malaysia, dan Galeri Seni Bank Negara Malaysia.

Muzeum Diraja

Muzium Diraja berlokasi di kompleks Istana Negara Lama, Jalan Istana, Kuala Lumpur. Bangunan tersebut pernah menjadi kediaman resmi Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong dan Raja Permaisuri Agong dari 1957 hingga 2011. Setelah tidak lagi digunakan sebagai istana negara, bangunan ini dialihfungsikan menjadi Muzium Diraja dan dibuka untuk umum pada Februari 2013.

Bangunan tersebut didirikan pada 1928 oleh seorang pengusaha keturunan Tionghoa bernama Chan Wing. Pada masa pendudukan Jepang di Tanah Melayu, bangunan ini digunakan sebagai mes pegawai tentara Jepang. Seusai Perang Dunia II, bangunan tersebut diambil alih oleh British Military Administration sebagai markas Tentara Udara Diraja. Setelah 1950, bangunan ini difungsikan sebagai istana sementara Sultan Selangor hingga Februari 1957. Selanjutnya, bangunan tersebut dibeli oleh Kerajaan Persekutuan dan dijadikan Istana Negara atau kediaman resmi Yang di-Pertuan Agong.

Rombongan MPI PP Muhammadiyah di Depan Muzeum Diraja

Secara umum, museum ini memperlihatkan kehidupan di lingkungan istana, mulai dari ruang tamu, ruang makan, ruang pertemuan, hingga kamar mandi. Untuk menjaga kebersihan bangunan, setiap pengunjung diwajibkan melepas alas kaki. Pengunjung juga dilarang mengambil foto atau video di seluruh bagian museum.

Pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting bagi pengembangan Museum Muhammadiyah. Berbeda dengan Muzium Diraja, Museum Muhammadiyah sebaiknya menyediakan sejumlah titik yang menarik untuk berfoto dan tidak mengharuskan pengunjung melepas alas kaki. Keberadaan replika ruang sidang kerajaan juga memberikan inspirasi untuk menghadirkan diorama pertemuan ketika K.H. Ahmad Dahlan pertama kali menggagas pendirian Muhammadiyah.

KL Gallery

Dalam kunjungan ini, Adim mendapat tugas mendokumentasikan dan mencatat berbagai hal penting yang kami temukan di museum dan galeri di Malaysia. Menurut catatannya, meskipun KL Gallery bukan museum dalam pengertian formal, tempat ini memberikan inspirasi mengenai cara menata ruang pamer secara menarik dan memadukannya dengan berbagai titik berfoto.

KL Gallery terletak di tepi Dataran Merdeka, Kuala Lumpur. Selain menampilkan sejarah dan perkembangan Kota Kuala Lumpur, galeri ini memperlihatkan proses produksi merchandise sebagai bagian dari atraksi bagi pengunjung. Jika dibandingkan dengan tempat sejenis di Yogyakarta, konsep KL Gallery memiliki kemiripan dengan Taman Pintar.

Salah satu hal menarik ialah mekanisme tiket masuk yang sebagian nilainya dikembalikan kepada pengunjung dalam bentuk voucer. Dari harga tiket sebesar RM10, pengunjung memperoleh voucer senilai RM5 yang dapat digunakan untuk membeli minuman, gantungan kunci, atau produk lain di food court dan gerai merchandise yang menyatu dengan galeri.

Unit produksi merchandise sekaligus sebagai bagian dari display museum

KL Gallery juga menyediakan banyak photo booth sehingga kunjungan ke tempat ini terasa menarik dan interaktif. Ini menjadi inspirasi bagi Museum Muhammadiyah, nantinya juga perlu menyediakan photo booth  di dalamnya.

KL Gallery menyediakan banyak photobooth sehingga sangat menarik bagi pengunjung

Hal lain yang mengesankan adalah penggunaan media dua dimensi dan tiga dimensi secara terpadu. Sebuah layar lebar menampilkan penjelasan mengenai berbagai sudut Kota Kuala Lumpur, sedangkan maket kota di hadapannya dilengkapi tata cahaya yang menyala mengikuti lokasi yang sedang dijelaskan. Pertunjukan multimedia tersebut berlangsung sekitar 15 menit.

Konsep ini menunjukkan bahwa penyampaian informasi dapat dibuat lebih hidup melalui perpaduan narasi audiovisual, maket, dan tata cahaya. Pendekatan serupa sangat mungkin diterapkan dalam pengembangan Museum Muhammadiyah.

Maket kota KL yang dilengkapi dengan tata lampu untuk mendukung uraian pada media dua dimensi

Islamic Art Museum Malaysia

Islamic Arts Museum Malaysia dikelola oleh sebuah yayasan dan bukan merupakan museum milik negara. Museum ini menempati kawasan seluas sekitar 30.000 meter persegi di tengah lingkungan hijau Kuala Lumpur Lake Gardens. Koleksinya mencakup lebih dari sepuluh ribu artefak serta berbagai buku seni Islam yang tersimpan di perpustakaannya.

Artefak yang ditampilkan sangat beragam, mulai dari perhiasan berukuran kecil hingga maket Masjidilharam dalam skala besar. Keseluruhan koleksinya dirancang untuk merepresentasikan kekayaan peradaban Islam dari berbagai belahan dunia.

Salah satu bagian yang menarik adalah galeri arsitektur Islam. Galeri ini menampilkan maket Masjidilharam, Masjid Nabawi, dan berbagai masjid dari negara-negara Islam. Konsep tersebut dapat menjadi inspirasi bagi Museum Muhammadiyah untuk menghadirkan maket bangunan bersejarah, seperti Langgar Kidul, sekolah Muhammadiyah pada masa awal, serta bentuk kantor persyarikatan pada periode awal perkembangannya.

 

Salah satu display galeri arsitektur Islam di Islamic Art Museum Malaysia 

Galeri Al-Qur’an dan Manuskrip menampilkan manuskrip Al-Qur’an dari berbagai negara dan periode sejarah. Keberadaan galeri ini memunculkan gagasan agar Museum Muhammadiyah menampilkan dokumen-dokumen asli, seperti notulen rapat Muhammadiyah pada masa awal pendiriannya. Sebagian dokumen tersebut dapat ditelusuri dan diperoleh dari Arsip Nasional Republik Indonesia.

Contoh display pada galeri Quran dan Manuskrip

Museum ini juga memiliki Galeri India, Tiongkok, dan Dunia Melayu yang menampilkan berbagai artefak Islam dari wilayah-wilayah tersebut. Konsep semacam ini dapat dikembangkan di Museum Muhammadiyah melalui penyajian artefak dari berbagai daerah yang menggambarkan dinamika perkembangan Muhammadiyah di seluruh Indonesia.

Galeri India, China dan Dunia Melayu di Islamic Art Museum Malaysia 

Selain itu, Islamic Arts Museum Malaysia menampilkan koleksi perhiasan, busana, senjata, mata uang, logam, keramik, dan berbagai benda yang menggambarkan kehidupan masyarakat Muslim pada masa lalu. Hal tersebut memberikan inspirasi agar Museum Muhammadiyah kelak menampilkan perlengkapan pribadi dan sarana dakwah yang pernah digunakan K.H. Ahmad Dahlan. Museum juga dapat menghadirkan perhiasan atau benda berharga yang dahulu disumbangkan oleh masyarakat Kauman untuk mendukung perjuangan Muhammadiyah.

Tidak hanya mengelola galeri permanen, museum ini juga menyelenggarakan program kerja sama internasional. Salah satunya adalah Travelling Exhibition, yaitu kerja sama dengan berbagai museum di luar negeri untuk menyelenggarakan pameran bertema tertentu. Sebagai contoh, pada 27 Agustus 2016 hingga 30 April 2017, museum ini meminjamkan 43 artefak untuk dipamerkan dalam pameran Beyond Words: Calligraphic Traditions of Asia di Art Gallery of New South Wales, Australia.

Program semacam ini relevan untuk dikembangkan oleh Museum Muhammadiyah melalui kerja sama pameran dengan museum lain, baik di dalam maupun luar negeri.

Museum ini juga dilengkapi Pusat Riset dan Konservasi yang memiliki Laboratorium Material Organik, Laboratorium Material Anorganik, Laboratorium Analitik, serta unit Mount and Display Design. Fasilitas pendidikannya mencakup perpustakaan anak, unit penyelenggara program pendidikan anak, lomba kaligrafi bagi generasi muda, dan kompetisi fotografi Islam.

Saling tukar cenderamata antara MPI PP Muhammadiyah dan  Islamic Art Museum Malaysia

Fasilitas publik lainnya meliputi perpustakaan akademik, toko museum, restoran, ruang pameran umum, paviliun kubah terbalik, auditorium, serta unit penerbitan buku. Dengan arsitektur modern, tata ruang yang baik, dan ragam display yang menarik, Islamic Arts Museum Malaysia menjadi salah satu referensi penting bagi pengembangan Museum Muhammadiyah.

Museum Negara Malaysia

Setelah mengunjungi tiga tempat, dengan mempertimbangkan keterbatasan waktu, rombongan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama yang dipimpin Widiyastuti, M.Hum. mengunjungi Galeri Seni Bank Negara Malaysia. Sementara itu, saya bersama anggota rombongan lainnya mengunjungi Muzium Negara Malaysia.

Di museum tersebut, kami diterima oleh Direktur Jenderal Departemen Museum Kementerian Pariwisata dan Budaya Malaysia, Datuk Kamrul Baharin A. Kasim, bersama sejumlah pejabat, termasuk Direktur Muzium Negara, Azmi bin Ismail.

Dalam dialog tersebut, kami memperoleh beberapa pelajaran penting mengenai pembangunan dan pengelolaan museum.

Pertama, pembangunan museum harus diawali dengan penyusunan storyline yang jelas. Kedua, museum memerlukan pengelola dan kurator yang memiliki tanggung jawab terhadap artefak dan keseluruhan kontennya. Ketiga, museum perlu dilengkapi fasilitas penelitian, ruang penyimpanan, dan sarana perawatan artefak.

Keempat, sumber daya manusia merupakan unsur penting dalam pengelolaan museum. Oleh karena itu, museum membutuhkan tenaga profesional yang memahami pengelolaan koleksi, mampu menjaga keamanan artefak, dan mempunyai kreativitas dalam menarik minat masyarakat.

Kelima, pembangunan sebuah display membutuhkan biaya yang besar. Kreativitas dalam menerjemahkan storyline menjadi tampilan yang menarik dan atraktif sangat diperlukan agar penggunaan anggaran memberikan hasil yang optimal.

Keenam, teknologi informasi memang dapat memberikan kesan modern, tetapi perangkat interaktif yang bersentuhan langsung dengan pengunjung relatif rentan mengalami kerusakan. Oleh karena itu, penggunaan teknologi di museum harus mempertimbangkan aspek keamanan, kemudahan pemeliharaan, dan daya tahannya.

Setelah berdialog selama hampir satu jam, kami diajak berkeliling oleh Direktur Muzium Negara, Azmi bin Ismail. Ia kembali menegaskan bahwa kekuatan sebuah museum terletak pada storyline. Tantangan terbesarnya adalah mengumpulkan artefak yang dapat mendukung alur cerita tersebut.

Apabila storyline dan artefaknya telah tersedia, desain serta penataan display dapat diserahkan kepada penyedia jasa yang kompeten. Pada awal pembangunannya, Muzium Negara menggunakan penyedia jasa dari Jerman dengan biaya yang sangat besar. Namun, dalam perkembangannya, penyedia jasa dari Singapura dan Tiongkok dinilai mampu menghasilkan desain yang sebanding dengan biaya lebih terjangkau.

Kami juga memperoleh saran agar dana pengadaan konten awal tidak seluruhnya digunakan untuk mengakuisisi artefak. Sebagian dana perlu disediakan sebagai cadangan apabila dalam proses pembangunan ditemukan artefak penting yang harus segera diperoleh.

Muzium Negara Malaysia memiliki empat galeri utama, yaitu Sejarah Awal, Kerajaan-Kerajaan Melayu, Era Kolonial, dan Malaysia Kini. Untuk menarik perhatian pengunjung, media pameran disajikan secara beragam, tidak hanya dalam bentuk statis, tetapi juga melalui perpaduan proyeksi video dua dimensi dan diorama tiga dimensi. Menurut direktur museum, media semacam ini justru lebih awet dan lebih mudah dipelihara dibandingkan perangkat interaktif.

Tim MPI PPM bersama Direktur Museum Negara Malaysia (bercelana dan berbaju hitam)

Sebelum meninggalkan Muzium Negara, kami meminta rekomendasi mengenai museum yang paling sesuai dijadikan referensi bagi pengembangan Museum Muhammadiyah. Kami disarankan mengunjungi Muzium UMNO di Melaka. Atas bantuan Datuk Kamrul Baharin A. Kasim, kami kemudian dihubungkan dengan Direktur Muzium UMNO, Khamis bin Abas, dan dapat mengunjungi museum tersebut pada hari berikutnya.

Ruang pamer publik juga disediakan oleh Museum Negara

Setelah menyelesaikan agenda kunjungan hari pertama, kami bersilaturahmi dengan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Malaysia di Gombak, Kuala Lumpur. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si. menyampaikan pengajian bertema penguatan komitmen berorganisasi di Muhammadiyah.

Pengajian oleh Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si. di PCIM Malaysia

Museum UMNO

Di Muzium UMNO, Melaka, rombongan diterima oleh direktur museum, Khamis bin Abas. Ia menjelaskan bahwa museum tersebut merekam perjalanan UMNO sebagai salah satu organisasi politik besar di Malaysia.

Konten museum disajikan melalui perpaduan artefak, narasi, dokumen, dan foto-foto sejarah. Museum ini juga menampilkan tokoh-tokoh pendiri dan pemimpin UMNO, baik pada tingkat pusat maupun negara bagian. Teks narasinya ditata secara menarik sehingga pengunjung tetap nyaman mengikuti sejarah panjang organisasi tersebut.

Ditinjau dari storyline-nya, Muzium UMNO memiliki banyak kesamaan dengan rancangan Museum Muhammadiyah. Keduanya mengangkat perjalanan sebuah organisasi gerakan. Perbedaannya, UMNO merupakan gerakan politik di Malaysia, sedangkan Muhammadiyah merupakan gerakan Islam yang bergerak dalam bidang dakwah, pendidikan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat di Indonesia.

Dari pojok kiri atas searah jarum jam: replika ruang rapat, panel dengan poster, multimedia di Museum UMNO (Foto: Novindiya Agung Yudhanto)

Muzium UMNO mengawali pamerannya dengan sejarah pendirian organisasi, kemudian melanjutkannya dengan perjalanan serta peran tokoh-tokoh penting. Museum ini juga menghadirkan replika ruang pertemuan, panel narasi, poster, dokumentasi foto, dan media multimedia.

Konsep tersebut melahirkan banyak gagasan bagi pengembangan Museum Muhammadiyah. Museum Muhammadiyah dapat menghadirkan replika tempat-tempat permusyawaratan yang pernah melahirkan keputusan penting bagi perjalanan persyarikatan. Narasi sejarah juga dapat disusun secara kronologis, mulai dari latar belakang pendirian, gagasan K.H. Ahmad Dahlan, perkembangan organisasi, peran tokoh-tokohnya, hingga kontribusi Muhammadiyah bagi bangsa dan kemanusiaan.

Tukar menukar cendermata dengan Direktur Museum UMNO Malaysia (Foto: Novindiya Agung Yudhanto)

Kunjungan ke berbagai museum di Malaysia memberikan banyak pelajaran mengenai pentingnya storyline, ketersediaan artefak, kualitas sumber daya manusia, kreativitas dalam merancang display, penggunaan teknologi secara tepat, serta pengembangan program pendidikan dan kerja sama internasional.Tim Museum MPI PPM dan Direktur Museum UMNO (Foto: Novindiya Agung Yudhanto)

Semoga berbagai pengetahuan dan inspirasi yang diperoleh melalui kunjungan ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi terwujudnya Museum Muhammadiyah sebagai pusat dokumentasi sejarah, pendidikan, penelitian, dan pewarisan nilai-nilai perjuangan Muhammadiyah kepada generasi mendatang.

Semoga Museum Muhammadiyah dapat terwujud.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *