bendera turki

Istanbul, Turki, 7 Juni 2014 — Sebelum meninggalkan Istanbul, saya bersama rombongan memperoleh kesempatan yang sangat menarik, yaitu menghadiri prosesi wisuda Fatih University. Kunjungan ini menjadi penutup yang berkesan karena memberi pengalaman baru dalam melihat bagaimana sebuah universitas di negara lain memaknai perayaan kelulusan mahasiswanya. Kesan pertama yang saya rasakan adalah suasana wisuda yang sangat berbeda dengan yang lazim saya temui di Indonesia. Jika prosesi wisuda di tanah air umumnya berlangsung formal dan khidmat, Fatih University justru mengemasnya sebagai sebuah perayaan akademik yang meriah, penuh hiburan, dan melibatkan keluarga wisudawan secara lebih dekat. Seluruh rangkaian acara diselenggarakan di sebuah stadion dengan tata panggung yang megah, menghadirkan atmosfer yang menyerupai sebuah festival akademik.

Keluarga wisudawan memenuhi tribun stadion, sementara para wisudawan memasuki arena melalui panggung utama dan berjalan beriringan menuju tempat yang telah disediakan di tengah lapangan.

Prosesi pembukaan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Turki, dilanjutkan dengan penayangan profil universitas dan berbagai capaian yang telah diraih, kemudian diselingi berbagai pertunjukan yang membuat suasana semakin hidup.

Hal yang paling menarik perhatian saya adalah cara universitas memberikan ruang kepada para wisudawan untuk mengekspresikan kebahagiaannya. Di sela-sela pertunjukan, para wisudawan tampak larut menikmati suasana, ikut bernyanyi dan bergerak mengikuti irama musik bersama teman-temannya. Bagi saya, pemandangan seperti ini terasa cukup berbeda karena dalam tradisi wisuda di Indonesia suasana umumnya dijaga tetap formal dan penuh kekhidmatan. Pengalaman tersebut semakin menyadarkan saya bahwa setiap bangsa memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan penghargaan terhadap keberhasilan akademik.

Setelah rangkaian hiburan, acara kembali memasuki suasana yang lebih resmi dengan pemberian penghargaan kepada para lulusan terbaik, dilanjutkan sambutan singkat dari Rektor Fatih University dan beberapa tamu kehormatan. Menariknya, pada kesempatan tersebut saya juga melihat Rektor Institut Teknologi Bandung turut memberikan sambutan sebagai salah satu tamu undangan internasional.

Prosesi penyerahan ijazah pun berlangsung sederhana namun tetap berkesan. Para wisudawan berjalan menuju panggung secara bergantian untuk menerima gulungan ijazah yang diikat dengan pita, kemudian berkumpul kembali bersama teman-temannya. Ketika seluruh lulusan telah berada di atas panggung, pembawa acara mengajak mereka melakukan hitung mundur bersama. Saya sempat bertanya-tanya apa yang akan terjadi setelah hitungan mencapai angka nol. Ternyata, tepat pada hitungan terakhir, seluruh wisudawan secara serempak melemparkan topi toga ke udara, disambut tepuk tangan dan sorak kegembiraan dari keluarga serta para tamu yang memenuhi stadion. Momen tersebut menjadi penutup yang sangat meriah sekaligus menjadi simbol berakhirnya perjalanan akademik mereka.

Menghadiri prosesi wisuda di Fatih University memberikan pengalaman yang memperkaya wawasan saya tentang keberagaman budaya akademik di berbagai negara. Meskipun bentuk dan tradisinya berbeda, esensi wisuda tetap sama, yaitu memberikan penghormatan kepada perjuangan para lulusan sekaligus menjadi awal pengabdian mereka kepada masyarakat. Setiap perguruan tinggi memiliki kekhasan dalam mengekspresikan nilai-nilai tersebut, sebagaimana setiap bangsa memiliki tradisi akademiknya sendiri.

Benarlah pepatah mengatakan, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Demikian pula dalam dunia pendidikan tinggi, setiap universitas memiliki budaya dan karakter yang berbeda. Perbedaan itulah yang justru memperkaya wawasan dan menjadi pelajaran berharga dalam setiap perjalanan akademik.

Salam persahabatan dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *